tiga orang membentuk kemitraan

48 Tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginvestasi 4,500 dolar. Y sebesar 3.500 dolar dan Z sebesar 2.000 dolar. - 5135962 Hasilpenelitian menunjukkan: 1) bentuk kemitraan sekolah-orang tua dalam pembelajaran daring yaitu dengan mengadakan pertemuan guru dan orang tua, membentuk group-group orang tua siswa serta mengoptimalkan peran guru dalam pembelajaran. 2) faktor pendukung kemitraan yaitu komitmen bersama sekolah dan orang tua, komitmen orang tua menyiapkan Tigaorang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara -rata. X menginvestasikan 4.500 dolar. Y sebesar 3.500 dolar dan z sebesar 2000 dolar. jika keuntungan mencapai 1500 dolar, lebih kurang berapa yang akan diperoleh X, jika keuntungan dibagi?. Question from @Pinkyyyyyy - Sekolah Dasar - Matematika Kemitraanmerupakan pemecah masalah untuk meningkatkan kesempatan petani kecil dalam perekonomian nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kemitraan merupakan suatu bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk ikatan kerjasama atas dasar kesepakatan dan saling membutuhkan. (Sulistyani, 2004). Kemitraanadalah bentuk pengaturan bisnis di mana bisnis tertentu akan dimiliki dan dioperasikan oleh sejumlah orang, yang dikenal sebagai mitra bisnis. • Kemitraan yang dipilih akan tergantung pada persyaratan bisnis individu yang membentuk kemitraan, dan nasihat hukum sangat disarankan sebelum pembentukan kemitraan terbatas.. Bisnis. Er Sucht Sie Freie Presse Chemnitz. Sebagai pelaku bisnis, apakah sobat KH sudah paham mengenai kemitraan? Kemitraan atau partnership adalah kerja sama di antara dua pihak atau lebih dalam mengelola dan mengoperasikan bisnis bersama demi mencapai keuntunganDalam perjalanannya, pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan saling melakukan pendistribusian tanggung jawab untuk bisa menjalankan organisasi dan berbagai pendapatan ataupun kerugian yang terjadi dalam bisnis Indonesia, kemitraan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah PP No 17 Tahun 2013 yang menyatakan bahwa kemitraan adalah hubungan yang dijalin antara dua atau lebih orang ataupun institusi yang sudah menerima untuk bisa saling berbagi keuntungan yang diperoleh dari bisnis di bawah pengawasan seluruh anggota ataupun nama anggota berdasarkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha KPPU, pengertian dari kemitraan adalah bentuk kerjasama dalam keterkaitan usaha secara langsung ataupun tidak langsung, atas dasar saling percaya, membutuhkan, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan para UMKM ataupun bisnis tentu berbeda dengan joint venture yang dilakukan oleh dua perusahaan atau lebih, karena kemitraan hanya berlaku untuk gabungan antar perorangan membentuk suatu kemitraan, sobat KH perlu memahami apa saja hal-hal yang mendasarinya. Seperti misalnya struktur bisnis kemitraan yang relatif mudah dan murah untuk dibentuk, memiliki persyaratan pelaporan minimum, berbagi kendali atas manajemen bisnis, memiliki perjanjian hukum, dan terpaut kontinuitas Kemitraan Tak hanya memiliki dasar, kemitraan juga harus dijalankan atas prinsip-prinsip yang membangun. Beberapa prinsip kemitraan antara lainPrinsip kesamaan visi, misi, dan tujuanPrinsip kebersamaan atau semangat gotong royongPrinsip keseimbanganPrinsip keadilan dan transparansi atau keterbukaanPrinsip manfaatPrinsip keberlanjutanLangkah awal yang sobat KH perlu lakukan untuk melakukan kemitraan adalah memilih jenis kemitraan itu sendiri. Saat ini, sudah banyak sekali jenis kemitraan. Namun, jenis kemitraan yang paling banyak dijalani adalah kemitraan yang dilakukan secara bersama, menjalankan tugas secara merata, dan memperoleh keuntungan KemitraanBersumber dari laman The Balance Small Business, beberapa jenis kemitraan yang perlu diketahui pemilik bisnis antara lainKemitraan Umum General PartnershipPada jenis kemitraan umum, semua pihak bertanggung jawab atas pengelolaan bisnisnya, termasuk mengelola utang piutang perusahaan. Keuntungan bisnis juga harus dibagi rata. Semua pihak wajib menyelesaikan permasalahan yang terjadi, terutama masalah yang mengikat secara Terbatas Limited PartnershipKemitraan terbatas adalah jenis kemitraan yang terdiri dari mitra umum yang tanggung jawabnya terbatas pada jumlah dana yang mereka berikan untuk usaha bersama tersebut. Mitra terbatas biasanya investor pasif silent partner yang tidak memiliki peran dalam pengelolaan bisnis sehari-hari. Mitra yang tidak menjalankan kegiatan operasional sehari-hari tidak memiliki tanggung jawab terkait utang ataupun permasalahan hukum lainnya. Meskipun demikian, dalam hal pembagian hasil, seluruh pihak berhak memperoleh porsi yang telah disepakati Terbatas Gabungan Incorporated Limited PartnershipPada jenis kemitraan terbatas gabungan, mitra yang tergabung dapat memiliki tanggung jawab terbatas atas utang bisnis. Namun di dalam struktur organisasi ini minimal ada satu mitra umum dengan tanggung jawab tidak mitra dalam jenis kemitraan terbatas gabungan mendapatkan perlindungan hukum. Sehingga jika salah satu mitra melakukan kesalahan yang memang harus diproses secara hukum, maka pihak lainnya akan terlindungi dari kondisi tersebut. Dengan kata lain, jenis kemitraaan ini merupakan gabungan antara kemitraan umum dan kemitraan sudah memahami dan memilih jenis kemitraan yang akan dilakukan, maka sobat KH dan calon mitra perlu membuat Memorandum of Understanding MoU atau kontrak bisnis. Sehingga, setiap hak dan tanggung jawab yang mengikat akan tertulis dan pada akhirnya akan mengikat secara pihak yang sudah berhasil menjadi rekan ini bisa langsung melakukan bisnis seperti biasanya. Dalam setiap harinya, maka harus melakukan kegiatan seperti apa yang tertera dalam kontrak dengan bagi hasil, umumnya akan didasarkan pada kontrak yang sudah ditandatangani oleh setiap pihak. Sedangkan untuk urusan pajak, maka setiap mitra akan membayarnya dengan nilai dalam kegiatan kemitraan pembagian hasil dilakukansecara rata, namun tiap pihak harus tetap membayar pajak sesuai dengan perhitungannya masing-masing. Hal ini karena bisa saja ada mitra yang memiliki lebih dari satu KemitraanPola kemitraan adalah bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Dilansir dari buku berjudul “Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis” karya Sumardjo 2010, terdapat lima jenis pola kemitraan yakniPola Kemitraan Inti PlasmaPola kemitraan inti plasma adalah pola kemitraan yang dilakukan antara perusahaan dengan petani atau kelompok tani. Dimana perusahaan inti yangmenyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah, serta memasarkan hasil kelompok mitra bertugas memenuhi kebutuhan perusahaan inti sesuai dengan persyaratan yang telah Kemitraan SubkontrakPola kemitraan subkontrak adalah pola kemitraan yang dilakukan antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha. Kelompok mitra usahaini biasanya kelompok yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari Kemitraan Dagang UmumPola kemitraan dagang umum adalah pola kemitraan yang dilakukan antara pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas yang diperlukan oleh pihak pemasaran Kemitraan KeagenanPola kemitraan keagenan adalah pola kemitraan yang dilakukan antara perusahaan mitra dengan pengusaha kecil. Pihak perusahaan mitra perusahaan besar memberikan hak khusus kepada pengusaha kecil untuk memasarkan barang atau jasa perusahaan yang dipasok perusahaan Kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis KOAPola kemitraan KOA merupakan pola hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan biaya, modal, manajemen, dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditas perusahaan mitra juga berperan dalam meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan dan KemitraanDengan berbagai jenis dan pola yang ada, kemitraan dapat dikatakan menjadi cara terbaik untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Inilah sebabnya mengapa banyak orang mempertimbangkan untuk menjalin kemitraan daripada melakukannya itu, terdapat banyak manfaat yang bisa dirasakan pemilik usaha jika menjalankan kemitraan. Dengan bermitra, kamu akan berbagi tanggung jawab dan risiko dengan mitra usaha kamu, hingga saling memperkuat masing-masing keuntungan yang bisa didapatkan saat melakukan kemitraan adalah sebagai berikutSumber daya yang lebih besarDengan melibatkan lebih banyak orang, maka ide yang diterapkan dalam bisnis pun menjadi lebih banyak. Beban kerja pu dapat dibagi bersama mitra kamu. Selain itu, pendanaan usaha juga tidak ditanggung oleh hanyasatu pihak. Intinya, kamu akan lebih memiliki banyak orang untuk memikirkan dan menjalankan perkembangan bisnis beragam keterampilanKarena bermitra adalah menggabungkan dua individu atau pihak usaha, otomatis karyawan atau pekerja dari dua pihak tersebut akan ikut bersatu. Sehingga sumber daya manusia aan semakin banyak dan beragam. Hal ini akan membawa dampak bagi usaha yang sedang kamu mengurangi beban kerjaKemitraan adalah menyetujui adanya kerjasama. Oleh karena itu, seluruh tanggung jawab dan beban kerja akan dikerjakan secara bersama-sama, baikdalam mengatasi kendala operasional, mengambil keputusan, maupun konsultasi terkait perkembangan cukup tinggiKarena memuat sumber daya yang cukup banyak, kemitraan menjanjikan fleksibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan membangun semuanya sendirian. Sehingga kamu akan lebih mudah mendapatkan hasil yang diinginkan karena masing-masing pihak bisa lebih memiliki banyak waktu dan tenaga untuk fokus pada pengembangan beban pembayaran pajakKeuntungan lain dari kemitraan adalah beban pembayaran pajak menjadi berkurang. Umumnya, kemitraan usaha akan dikenakan pajak pass-through. Maksudnya, usaha kamu tidak dikenakan pajak penghasilan badan, melainkan tiap pihak kemitraan akan membayar pajak sesuai pendapatan usaha. Sehingga jumlah pajak yang dibayarkan disesuaikan dengan jumlah saham yang dimiliki setiap mitra KHNah, itulah penjelasan lengkapnya mengenai kegiatan kemitraan, mulai dari pengertian, prinsip, jenis, pola hingga cara kerja dan bagaimana, apakah sobat KH sudah tertarik untuk melakukan kemitraan bisnis? Hal terpenting yang perlu diperhatikan Sobat KH adalah harus berhati-hati dalam melakukan kemitraan harus memilih mitra yang terpercaya dan membuat kegiatan kemitraan tersebut menjadi efisien dan aman dengan mengikatnya secara hukum dalam bentuk perjanjian sobat KH yang saat ini atau berencana melakukan kegiatan kemitraan namun tidak ingin ribet mengurus pembuatan dokumen legalitas seperti perjanjian atau kontrak kemitraan, kamu bisa serahkan kepada Kontrak layanan perjanjian kemitraan yang tertera pada laman Kontrak Hukum dapat membantu kamu untuk membuat dan melakukan peninjauan kontrak perjanjian kemitraan yang sesuai dengan kebutuhan kerjasama kamu. Segera hubungi Kontrak Hukum via link berikut ini Tanya KH ataupun melalui Direct Message DM ke media sosial Instagram kontrakhukum. ArticlePDF AvailableFigures Content may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Vol. 1, No. 1, Agustus 2016 22 - 34PRofesi Humas - Jurnal Ilmiah Program Studi Hubungan Masyarakat ISSN 2528 - 6927MODEL KEMITRAAN PT. HOLCIM INDONESIA Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaProgram Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas PadjadjaranJalan Raya Jatinangor-Sumedang enassalukarahma penelitian ini adalah untuk tahap perumusan kebutuhan bersama, pembentukan landasan bersama dan vis misi, penyusunan agenda kegiatan, penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan, dan penyusunan strategi penghentian kemitraan. Metode yang digunakan adalah deskiptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber penelitian, proses awal adalah dengan merumuskan kebutuhan bersama melalui social mapping, mengatasi perbedaan latar belakang kedua pihak dan mengadakan pelatihan. Tahap kedua adalah mengadakan pertemuan tertutup membahas landasan bersama, visi misi, kemudian menyatukan informasi tentang kebutuhan dengan visi misi untuk merencanakan agenda kegiatan. Selanjutnya, kedua pihak menyusun agenda kegiatan lewat road map dan Balanced BussinesPlan, serta merencanakan struktur kerja formal. Tahap selanjutnya adalah penyampaian rencana aksi berupa pemberian layanan atau jasa pada implentasi program CSR, menjaga keterlibatan pihak bermitra, serta evaluasi kemitraan. Tahap penyusunan exit strategy dilakukan dengan langkah perencanaan dan persiapan, perencanaan tindakan lanjut, serta persiapan generasi pada penelitian ini adalah agar pihak perusahaan banyak mengadakan pelatihan khususnya mengenai pengelolaan CSR. Perusahaan sebaiknya menggunakan metode audit komunikasi sebagai salah saru cara mengevaluasi kemitraan ini. PKM sebaiknya mengkuantikasikan ukuran tindakan yang mereka usulkan untuk di lakukan dengan tabel kuantikasi kebutuha. PKM sebaiknya lebih ulet merencanakan program CSR walau sederhana. Pemerintah sebaiknya mendukung praktik comdev seperti ini dengan memberikan kemudahan birokrasi saat pelaksanaan CSRKata kunci Kemitraan, Model, Pengembangan Model Kemitraan, Pengembangan Masyarakat, Hubungan KomunitasPARTNERSHIP MODEL BY PT. HOLCIM INDONESIA TBK. ABSTRACTThis study aims to determine the step of a development model for patrnership. Firstly assessement of common need, to establish the common ground and objective, arrange the agenda for actions, delivery action plan and evaluate the operations of the partnership, and arrange the exit strategy. This research used positivistic paradigm and descriptive research type. The data collection techniques used are indept interview, observation, and study of of the data using sources result of this research, the rs process overcomes differences in background, assessed of mutual need with social mapping, and created trainings for PKM. Second step is to arrange closed meeting to established the common ground & vison and mission, the united the informations of need with those vison and mission for arranged the agenda. Then, both of member of parthership arranged the agenda of actions trough road map and Balance Business Plan, and arranged the formal framework. Next step is to deliver its action plan by giving out services or some other function in CSR program implementation, the executive arm seeks to maintained the involvement of all partners, and evaluated the partnership operation. The exit strategy arrangement by planning and preaparing including follow up, and prepare for the next can be given coming out from this rersearch are; corporate should arrange training specially CSR management training. The Corporate should use communication audit method as one of the evaluating technique for this partnership. PKM should quinties the size of the task they propose to undertake by creating a table of quantication need. PKM should more resilient in planning CSR program eventough it just simple planning. The government should support the community development practice by simplied the bureaucracy of CSR implementationKey words Partnership, Model,A development partnership model, community development, community relations 23Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia relations merupakan salah satu bagian dari tanggung jawab sosial per-usahaan. Dalam praktik community relations, banyak aktivitas-aktivitas yang dijalankan. Salah satunya adalah membentuk kemitraan antara organisasi/ perusahaan/ lembaga dengan komunitas/ masyarakat sekitar dengan tujuan untuk community development. Kemit-raan ini merupakan bentuk keterlibatan komunitas dari sebuah lembaga/ organisasi bisnis. Lembaga tersebut tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga yang hanya mencari keuntungan ekonomi semata, tetapi juga mementingkan dan memperhatikan manfaat untuk komunitasnya Praktik kemitraan antara organisasi bisnis dan komunitas untuk pengelolaan program CSR bisa kita lihat di Indonesia salah satunya di PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant mempunyai banyak tantangan ketika pertama kali dibangun di Tuban. Hal ini ditunjukkan dengan adanya masyarakat yang kontra terhadap pembangunan pabrik di sekitar wilayah Tambak boyo. Masyarakat menilai perusahaan akan memberikan dampak buruk terhadap alam dan kelangsungan serta kesejahteraan hidup masyarakat sekitar pabrik. Berdasarkan per-masalahan-permasalahan yang timbul, Holcim Tuban segera mengambil langkah dimulai dari menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat. Kemudian PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant giat melakukan kegiatan com-munity development untuk masyarakat sekitar lewat “Pusat Kegiatan Masyarakat PKM”. Dalam membentuk PKM, Holcim mengusung konsep pemberdayaan Community Based Organization CBO atau organisasi berbasis masyarakat. PKM merupakan inisiasi antara Holcim Tuban dan masyarakat sekitar. PKM terdiri dari perwakilan tiap desa di ring 1 yang berjumlah enam desa, yaitu Merkawang, Mliwang, Glondonggede, Sawir, Kedungrejo dan Karangasem. Kemudian PKM digandeng Holcim untuk dijadikan sebagai mitra.“Awalnya, PKM dilibatkan untuk mengawasi dan mengawal kegiatan CSR yang dilakukan perusahaan Seiring ber-jalannya waktu akhirnya tugas kami sampai pada mengelola kegiatan CSR”1Pada awal kemitraan tersebut, Holcim Tuban dan PKM masih menggunakan konsep ke-mitraan sederhana. PKM hanya bertugas untuk mengawal kegiatan CSR yang akan dilak-sanakan. Pada saat melakukan pengkajian dan pemahaman keadaan atau kondisi desa, PKM diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran dan pendapat tentang kondisi awal desa kepada Holcim. Holcim kemudian mem-pertimbangkan pendapat-pendapat tersebut untuk kemudian berupaya mencari konsep yang 1 Wawancara pertama dengan Makruf, Ketua Pusat Kegiatan Masyarakat PKM, di kantor PKM Tuban, 20 Januari 2015Bagan Model Kemitraan Awal PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan PKM Tabel 1. Model Kemitraan Awal PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan PKM 24 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnasesungguhnya dari kegiatan CSR tersebut. PKM hanya menerima informasi kapan pelaksanaan kegiatan dilakukan dan hanya melakukan pemantauan terhadap kegiatan tersebut. Evaluasi kegiatan hanya dilakukan oleh pihak perusahaan. PKM terkadang hanya melakukan evalusasi terhadap CSR dilihat dari aspek budaya dan karakter kemitraan yang lama, setiap tahapan dalam implementasi aktivitas CSR, PKM kurang dilibatkan. Misalnya pada inisiasi program, PKM tidak mempunyai peran untuk memadukan informasi mengenai kebutuhan mereka sehingga memunculkan sebuah ide untuk agenda kegiatan CSR yang sesuai. Mereka juga minim peran untuk merencanakan sendiri aspek-aspek penting perencanaan strategis dalam menyusun agenda kegiatan tersebut. Pada tahap evaluasi kemitraan dilakukan dengan hanya sebatas obrolan santai mengenai keberlangsungan kemitraan tersebut. Semua aktivitas tersebut memang sebagian besar dijalankan oleh pihak eksekutif kemitraan dalam hal ini adalah PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban dari dikembangkannya model kemitraan ini adalah perusahan ingin melibatkan masyarakat lokal dalam mengembangkan ini-siatif untuk membuat usulan tentang kebutuh-an mereka, tentang sebuah kegiatan yang bisa meningkatkan masyarakat baik dari segi pendidikan, kesehatan, sosial, dll. Perusahaan ingin agar masyarakat lokal tidak semata-mata dilibatkan sebagai objek saja, tetapi juga menjadi subjek dari pelaku kegiatan CSR. Perusahaan ingin mendampingi masyarakat agar berkembang menjadi masyarakat yang mandiri. Masih dalam pertemuan penyusunan BBP, Holcim dan PKM merumuskan perencana-an untuk program-program CSR yang akan dilakukan selama satu tahun kedepan. Apa saja yang menjadi tujuan pelaksanaan program tersebut, siapa saja sasaran programnya, apa saja objektifnya, siapa saja yang menjadi penanggungjawab saat pelaksanaan program berlangsung. “Iya. Jadi mereka bener-bener bisa mandiri. Kalau sampai sekarang ini, mungkin kalau dibikin persen, paling baru 30-40% inisiasi program yang berasal dari PKM. Sebagian besar memang masih dari Holcim. Cuman, dalam hal persiapan, eksekusi, sampai evaluasi memang koordinasi selalu sama PKM. Jadi yang kita harapkan nantinya lambat laun 100% inisiasi sampai evaluasi itu dari PKM”2Pengembangan kemitraan dilakukan karena kedua pihak ingin kemitraan ini berhasil dijalankan. Keberhasilan tersebut dapat ter-wujud jika kemitraan sudah mempunyai karakter-karakter seperti kejelasan mengenai agenda bisnis yang dihasilkan, goals sesuai dengan objective, berpotensi untuk melibatkan karyawan, digambarkan dengan jelas dan mempunyai ekspektasi yang realistis, saling menghormati dan ada keinginan untuk saling belajar, partner yang solid melakukan per-ubahan, hubungan yang saling jujur dan terbuka, hubungan kerja yang eksibel, berkomitmen untuk tetap berkomunikasi secara terus menerus, investasi dari kedua pihak, berakar pada komunitas tidak merendahkan potensi perbedaan budaya kedua pihak yaitu budaya perusahaan dan budaya komunitas, kemitraan yang berhasil menunjukkan akul-turasi karyawan-karyawan perusahaan terhadap komunitas, serta berkomitmen jangka panjang untuk menerima hasilnya. Melalui konsep seperti ini masyarakat diharapkan mampu menganalisis tentang kebu-tuhan dan kondisi mereka sendiri sehingga potensi aset-aset lokal dan keanekaragaman sosial budaya di daerah sekitar pabrik dapat dimanfaat-kan bagi pencapaian kemandirian, lepas dari ketergantungan sebagai tujuan pembangunan yang sesungguhnya. Holcim Tuban ingin agar masyarakat benar-benar merasa diberdayakan dan upaya untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera bisa tercapai. Dengan konsep baru ini diharapkan pula masyarakat mampu merasakan multiplier effect yang telah diberikan perusahaan, sehingga masyarakat bisa lebih produktif. Konsep ini mengandung pendidikan kemandirian, memposisikan mereka dalam derajat keberdayaan dan bermuatan buttom up, serta memiliki pendidikan kemandirian stakeholder community development.Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui tahap perumusan kebutuhan bersama dalam pengembangan kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Wawancara kedua dengan Ninda Luhur, community relations ocer PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant,di kantor comrel Holcim Tuban, 16 November 2015 25Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia Untuk mengetahui tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi dalam pengembangan kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyusunan agenda kegiatan dalam pengembangan kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan dalam pengembangan kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyusunan strategi penghentian kemitraan exit strategy dalam kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan PUSTAKA1. Public RelationsJohn E. Marston dalam Ruslan, 20135 memberikan denisi Humas atau Public Relations “Public Relations is planned, persuasive communication designed to inuence signicant public”. 2. Hubungan Komunitas Community RelationsJerold dalam Iriantara, 201020 menjelas-kan denisi community relations sebagai “Peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk kemas-lahatan bersama bagi organisasi dan komunitas.”Satu prinsip yang hendak dikembangkan melalui community relations adalah mengem-bangkan hubungan bertetangga yang baik, karena hal tersebut bisa memberikan manfaat yang sangat Exit StrategyDenisi exit strategy dalam wirausaha dan manajemen strategi menurut web 2013 adalah“Langkah yang dipilih para pelaku usaha untuk sengaja meninggalkan bisnisnya guna merencanakan bidang usaha baru atau menyerahkan kendali usaha kepada generasi penerusnya” Subiyantoro 2013 mengutip pernyataan Rogers dan Macias bahwa ada tiga jenis strategi pengakhiran suatu program, yaitu phase down fase penurunan, phase over fase pengalihan, dan phase out fase penghentian.4. Pengembangan Masyarakat community developmentPengembangan masyarakat community development merupakan bentuk lain dari program community relations. Menurut Iriantara 2010173 “pengem-bangan masyarakat pada dasarnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimili ki masya-rakat itu. Masyarakat dalam konteks ini berperan sebagai partisipan sekaligus pemetik manfaat dari pembangunan. Pengembangan masyarakat dipandang sebagai pendekatan pembangunan yang bersifat bottom-up atau down-top.”Terkait dengan berdirinya suatu perusahaan di sekitar komunitas lokal, maka perusahaan diharapkan untuk meningkatkan peran serta komunitas dalam kegiatan perusahaan atau untuk menghindar dari munculnya ketidak-setaraan terhadap kondisi sosial ekonomi komunitas dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, dalam diperlukan suatu wadah program yang berguna untuk menciptakan kemandirian komunitas lokal untuk menata sosial ekonomi mereka sendiri dengan diciptakan suatu wadah yang berbasis pada komunitas yang sering disebut dengan community development yang tujuannya untuk pemberdayaan komunitas community empowerment.5. Kemitraan Bisnis-KomunitasDalam review penelitian sejenis oleh Fadilah 2011160, Hafsah menyatakan “Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat atau keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan saling mengisi berdasarkan pada kesepakatan.”Tetapi untuk konsep community relations ini, kemitraan yang dimaksud bukanlah kemit-raan dalam konteks usaha besar dan usaha kecil. “Kemitraan ini dikembangkan sebagai wujud keterlibatan komunitas organisasi bisnis, dan organisasi bisnis memandang dirinya bukan sekedar mesin ekonomi yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan tetapi juga memancang dirinya sebagai institusi sosial yang bisa memberikan manfaat secara sosial.” Iriantara, 2010167 26 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaKanter dalam Rogovsky, 2000 7 men-jelaskan bahwa secara umum, kemitraan dengan komu-nitas lebih kompleks dibandingkan dengan tipe kemitraan organisas bisnis-organisasi bisnis. Kesulitan-kesulitan tersebut bisa diatasi, bagaimanapun, jika kemitraan mempunyai karakter-karakter sebagai berikutPengembangan KemitraanMengembangkan kemitraan merupakan salah satu praktik community relations yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan. Di dalamnya pun terkandung tujuan untuk kemaslahatan bersama. Criss Gribben dalam Rogovsky, 200011 menyebutkan bahwa dalam pengembangan ke- mitraan antara organisasi bisnis dan komunitas terdapat tahapan-tahapan seperti Sumber Rogovsky 200011Tabel 1 Karakteristik Kemitraan Bisnis-Komunitas yang SuksesTabel 2 Pengembangan Model KemitraanSumber Rogovsky 200086. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Corporate Social ResponsibilityMenurut The World Business Council for Sustainable Development WBCSD dalam Wibisono 20077 “Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat luas.”Kerangka PemikiranGambar 2 Kerangka PemikiranLatar Belakang Pada prkatik community relations, banyak aktivitas-aktivitas yang dijalankan. Salah satunya adalah membentuk kemitraan antara organisasi/ perusahaan/ lembaga dengan komunitas/ masyarakat sekitar. Ho lcim membentuk PKM, perwakilan masyarakat sebagai bentuk community development yang kemudian dijadikan sebagai mitra dalam mengawa l program CSR. Seiring berjalannya waktu, kemitraan dikembangkan dan PKM akhirnya dipercaya untuk mengelola kegiatan CSR dar i tahap perencanaan hingga evaluasi. Tahap aw al pengembanga n adalah merumusk an kebutuhan ber sama, kemudian melakukan pertemuan untuk menyusun agendaCSR selama satu tahun kedepan. Fokus Penelitia n “Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indones ia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan Masyarakat PKM sebagai Bentuk Community Development” Pertanyaan P enelitian 1. Bagaimana tahap perumusan kebutuhan dalam pengemba ngan kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuba n Plant dan PKM? 2. Bagaimana tahap pembentukan andasan bersama dan visi misi dalam pengembangan kemitraan Indones ia Tbk. Tuban Plant deng an PKM? 3. Bagaimana tahap penyusunan agenda kegiatan da lam pengemba ngan ke mitraan P im Indone sia Tbk. Tuban Plant de ngan PKM? 4. Bagaimana tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemit raandalam pengembangan kemitraan im Indonesia Tbk. Tuban Plant dengan PK M? 5. Bagaimana tahap penyusunan strategi penghentian kemitraan exit strategy dalam pengembangan kemitraa n lcim Indone sia Tbk. T uban Plant dengan PKM?KONSEP “Pengembangan Kemitraan” -Chriss Gribben- Hasil Penelitian Menggambarkan Pengembangan Model Kemitraan PT. Holc im Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan Masyarakat PKM sebagai Bentuk Community Development METODOLOGI PENELITIANDalam penelitian ini menggunakan para-digma positivistik. Penelitian yang meng-gunakan paradigma ini berupaya menunjukkan kebenaran realitas yang ada, dan bagaimana realitas tersebut berjalan sesuai fakta Salim, 200668. 27Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini tidak menjelaskan maupun mencari hubungan, tidak pula menguji hipotesis, atau membuat 200927 menyebutkan bahwa penelitian deskriptif menyajikan satu gambar yang terperinci tentang satu situasi khusus, setting sosial, atau penelitian Pengambangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia dan Pusat Kegiatan Masyarakat ini, sampel dan informan diambil dengan menggunakan tekni purposive sampling. Key informan yang dipilih adalah empat orang dari divisi comrel Holcim, yaitu Isnani Jana Bidari, Ninda Luhur, Kusno Hartoyo, dan Danny M. Goenawan; dan empat orang berasal dari pengurus PKM, yaitu Makruf, Rajut, Muhimah, dan dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data “model interaktif” dari Huberman dan Miles yang terdiri dari tiga hal utama, yaitu 1 reduksi data; 2 penyajian data; dan 3 penarikan kesimpulan/ veri hal teknik keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber. Tria-ngulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Peneliti memilih Yosal Iriantara yang merupakan pakar comrel dan comdev sebagai triangulator sumber dari penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASANHasil Penelitian1. Tahapan Perumusan Kebutuhan Ber-sama dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPada tahap ini, terdapat beberapa poin yang dilakukan oleh kemitraan ini, yaitu Meng-atasi perbedaan latar belakang, kebutuhan masing-masing pihak dan aktivitas perumusan mengatasi perbedaan latar belakang, perusahaan melakukan pendekatan infromal kepada masyarakat. Dari pendekatan inilah kemudian terbentuk Kelompok Perwakilan Desa KPD yang merupakan perwakilan dari enam desa ring 1. Terdapat enam desa, dan masing-masing desa mempunyai lima orang sebagai mempunyai kebutuhan untuk secure dan social license juga untuk memenuhi tanggungjawab sosialnya, sedangkan masyarakat mempunyai kebutuhan bukti nyata dan manfaat dari tanggung jawab sosial perusahaan. Untuk itu, perusahaan dan masyarakat lewat KPD membentuk Pusat Kegaitan Masyarakat PKM. Perusahaan mengusung konsep CBO atau Community Based Organization untuk mengem-bangkan masyarakat dan melakukan pendekatan dua arah. Pengurus PKM berasal dari KPD, yaitu dua orang perwakilan tiap desa di ring 1, sehingga jumlah pengurusnya ada 12 orang. PKM kemudian dijadikan mitra oleh perusahaan. Tugas awal PKM adalah untuk mengawal kegiatan CSR saja, seiring berjalannya waktu kemitraan dikembangkan dan sampailah tugas PKM kepada pengelolaan CSR. Oleh karena itu, PKM mempunyai kebutuhan pelatihan-pelatihan untuk mengasah kemampuannya dalam menghadapi perannya pada pengembangan kemitraan ini. Tujuan dikembangkan kemitraan ini adalah untuk community development agar masyarakat khususnya PKM bisa menjadi organisasi yang mandiri, yang kuat dari sisi kelembagaannya. Dalam merumuskan kebutuhan masya-rakat tiga aktivitas, yaitu pemetaan sosial social mapping oleh PKM lewat KPD, kemudian informasi yang didapat KPD dikoordinasikan dengan PKM untuk menentukan kebutuhan mana yang paling mendesak untuk diusulkan kepada Holcim. Setelah itu, PKM melakukan pertemuan dengan Holcim untuk membahas mengenai kebutuhan tersebut dengan melalui komunikasi formal regular meeting dan informal diskusi santai.2. Tahapan Pembentukan Landasan Ber-sama dan Visi Misi dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatLandasan bersama diperoleh melalui penggalian nilai-nilai yang menjadi dasar bagi HIL dan PKM. HIL dan PKM mempunyai nilai-nilai yang saling bersinergi yaitu kejujuran, keinginan untuk maju bersama dan melibatkan banyak pihak. Kemudian didapati landasan 28 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnabersama dari kedua pihak dalam menjalankan kemitraan ini adalah “Kebersamaan member-dayakan masyarakat sesuai kearifan lokal” seperti yang diungkapkan Danny“Landasan utama kemitraan adalah kebersa-maan untuk pemberdayaan masyarakat. Semua kemungkinan dan peluang diarahkan untuk keberdayaan masyarakat. Peran PKM kian penting, tidak saja dalam implementasi. Sejak berdirinya di tahun 2011, PKM terus berkarya memajukan kesejahteraan masyarakat mela-lui sikap keterbukaan, saling percaya, dan kebersamaan, baik dengan HIL maupun dengan kelompok masyarakat lainnya.”3 Dari landasan ini kemudian terbentuklah visi dari PKM yaitu “Membantu menyejahterakan masyarakat desa ring 1”. Penggalian nilai-nilai sebagai landasan selama ini terjadi pada saat pertemuan untuk pembahasan Balanced Business Plan BBP. Di dalam pertemuan ini pula terdapat aktivitas penggabungan antara informasi mengenai kebutuhan masyarakat dan visi misi untuk menjadi sebuah agenda kegiatan. Pembuatan BBP ini bertujuan agar PKM mempunyai susunan rencana kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam jangka waktu satu tahun, sehingga tidak hanya pihak Holcim saja yang memiliki inisiatif. Akhirnya ketika timbul inisiatif dari masyarakat, maka Holcim akan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan perusahaan. Selanjutnya kedua pihak menyepakati untuk melibatkan banyak pihak seperti pemerintah, konsultan/ organisasi lain, dan melibatkan banyak penerima Tahapan Penyusunan Agenda Kegiatan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatTahap ketiga pada pengembangan kemit-raan ini adalah penyusunan agenda kegiatan. Di dalam penyusunan agenda kegiatan ini terdapat pula aktivitas perancangan kerangka kerja. Penyusunan agenda kegiatan ini mencakup penyusunan tujuan, sasaran, dan objektif dari kegiatan dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas pembntukan road map untuk tiga tahun, dan menghasilkan BBP pada tahun pertama. Di dalam BBP ini kemudian disusun 3 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, Stakeholder Engagement Coordinator PT. Holcim Indoensia Tbk. Tuban Plant. Via E-mail. Selasa, 12 Januari 2016agenda-agenda kegiatan CSR yang akan dilaksanakan pada road map tahun pertama. “Jadi, dari situ kita kan bikin analisis SWOT. Itu kan nggak cuman analisis strength, weakness nya saja. Mereka yang nge-list semua. Akhirnya dari situ mereka membuat road map. Dari road map itu mereka akhirnya membuat BBP dengan agenda besarnya. Cuman, dalam perjalanan satu tahun pasti ada hal-hal insidental yang memang harus diselesaikan secara insidental pula.”4Dari program-program CSR berkelanjutan sebelumnya tidak terjadi perubahan agenda kegiatan, tetapi terdapat tambahan-tambahan program baru. Dalam penyusunan agenda kegiatan yang baru ini, program-program yang telah di list oleh PKM, kemudian di klasi tersebut adalah Community Development Program CDP, Community Social Responsibility CSR Project, Stakeholder Engagement Program SEP, Social Activity SA, danVarious PoultryVP. Program-program tersebut merupakan program-program yang sudah rutin dikerjakan dan sudah masuk kedalam proposal. Program-program tersebut adalah CSR yang melibatkan PKM dari proses inisiasi hingga evaluasi. Ada pula beberapa program CSR yang merupakan program berasal dari Surat Perintah Kerja SPK. Selanjutnya pada setiap agenda kegiatan terdapat perencanaan strategis seperti peren-canaan mengenai tujuan, objective, sasaran, analisis SWOT, strategi, timeline, anggaran dana dan rencana evaluasi, serta terdapat aktivitas pengorganisasian dan pembagian tugas dan peran untuk masing-masing Tahapan Penyampaian Rencana Aksi dan Evaluasi Kemitraan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPada tahap ini, PKM dan HIL menyam-paikan aksinya dengan memberikan layanan berupa kegaitan dan program CSR. PKM mempunyai peran sebagai pengelola kegiatan, di mana dalam tahap ini PKM bertugas untuk perencanaan dan persiapan teknis seperti masalah logistik, administrasi, kegiatan lobby, dan koordinasi. Sedangkan HIL mempunyai peran sebagai supervisi untuk membimbing 4 Wawancara kedua dengan Ninda Luhur, community relations ocer PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plan, di kantor comrelHolcim Tuban, 16 November 2015. 29Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia membina PKM agar menjalankan tugasnya sesuai dengan jalur dan rencana awal. Pada tahap ini terdapat pula aktivtias evaluasi program yang dilakukan oleh PKM. Evaluasi program tergantung pada programnya. Penyampaian aksi ini terjadi sesuai dengan kondisi, tak jarang bila dalam pelaksanaannya terdapat hambatan dan halangan yang mengharuskan kedua pihak untuk melakukan aktivitas diluar rencana sesuai dengan kebutuhan dan berjalan secara spontan. Untuk menjaga keberlangsungan kemitra-an kedua pihak melakukan hal-hal yang dianggap penting dan mempengaruhi kemitraan. Seperti untuk akuntabilitas dilakukan dengan melakukan aktivitas reporting dan invoice. Di dalam menjaga keterlibatan masing-masing pihak, keduanya menerapkan nilai kejujuran dan keterbukaan, serta menerapkan kebijakan dari eksekutif kemitraan yaitu menerapkan sustainibility program pada saat mengelola CSR. Sedangkan untuk evaluasi kemitraan ini kedua pihak dilakukan dalam dua cara yaitu formal melalui monitoring evaluating dan reporting untuk mingguan dan bulanan, serta cara informal yaitu lewat diskusi santai. “Kita punya progress report. Capaian progressnya, ada graknya. Sampai dimananya. Kadang Holcim kasih tau PKM seharusnya saat ini PKM berada di grak yang mana. Terus ternyata di sana ada kendalanya sehingga menghambat. Jadi kita selalu koordinasi. Kedua belah pihak punya andil untuk saling mengingatkan”55. Tahapan Penyusunan Strategi Peng-hentian Kemitraan Exit Stratgy dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatUntuk tahap penyusunan strategi peng-hentian kemitraan exit strategy, perusahaan menyebutnya dengan strategi keluar. “Lebih tepatnya adalah “strategi keluar”, atau “exit strategy”, bukan penghentian. Inti dari program CBO adalah memperkuat masyarakat lokal. Dengan ini, penghentian dan pengakhiran hanyalah periodisasi untuk menuju tahap berikutnya yang lebih bermanfaat.”6Penyusunan rencana exit strategy ini dilakukan dengan bertahap. Tahap awal adalah 5 Wawancara pertama dengan Zenuri, Bendahara I PKM, di Kantor PKM, 17 November 20156 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, stakeholder engagement coordinator PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant. Via E-Mail. 12 Januari 2016. dengan perencanaan dan persiapan. Pada tahap perencanaan ini Holcim merumuskan apa saja kegiatan yang akan dilakukan untuk mempersiapkan PKM untuk dilepaskan.“Exit strategy yang paling nyata dan perlu disiapkan, baik oleh PKM maupun HIL adalah proses pewarisan untuk generasi penerus. Perlu ada PKM pada generasi ber-ikutnya, tidak hanya terhenti dan berakhir di PKM generasi pertama ini. Jadi, ada dua tugas utama PKM dan HIL di masa kekinian yaitu 1 pengembangan diri PKM untuk mampu menjadi pembawa manfaat dan share value pada masyarakat luas, serta 2 persiapan pada generasi berikutnya.”7 Selanjutnya adalah tahap merencanakan kegiatan tindak lanjut. Tahap ini yang saat ini sedang dijalankan yaitu dengan pengem-bangan diri PKM untuk mampu menjadi pembawa manfaat dan share value pada masyarakat luas. Holcim sedikit demi sedikit menyerahkan tanggung jawab untuk mengelola kegiatan CSR kepada PKM agar setelah Holcim tidak beroperasi lagi di daerah tersebut, masyarakat lokal mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan mereka selanjutnya adalah persiapan untuk generasi selanjutnya. Strategi CBO tidak hanya berlaku pada generasi pertama ini, yang lantas berakhir dan menguap begitu saja, tetapi perlu terus berkembang dan melahirkan generasi berikutnya. Pada masa depan, melalui strategi CBO ini, tanpa ada Holcim di Tuban pun, masyarakat tetap bisa bertumbuh, berkembang, dan mencapai cita-cita kesejahteraan sebuah asa kemandirian yang perlu untuk tetap dipupuk. Pembahasan Penelitian1. Tahapan Perumusan Kebutuhan Ber-sama dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatMenurut Chriss Gribben dalam Rogovsky 200011, terdapat beberapa langkah dalam perumusan kebutuhan tersebut yaitu mengatasi perbedaan latar belakang, berkumpulnya pihak yang bermitra untuk merumuskan kebutuhan bersama, dan melakukan pelatihan-pelatihan 7 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, stakeholder engagement coordinator PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant. Via E-Mail. 12 Januari 2016. 30 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnasebagai salah satu bentuk kebutuhan bersama. Rogovsky 200010, juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa membuat kemitraan berjalan sukses adalah memperlakukan pihak yang bermitra sebagai kesempatan untuk mengizinkan orang-orang dengan latarbelakang yang berbeda untuk belajar satu sama lain, dan dari tekanan dan paksaan yang berbeda mereka menghadapi sektor mereka. Kemitraan yang sering terjadi di Indonesia adalah kemitraan antara usaha besar dan usaha kecil atau kemitraan yang tujuannya adalah bisnis. Tetapi yang terjadi dalam kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk dan PKM adalah kemitraan antara organisasi bisnis dan komunitas yang bertujuan untuk kemaslahatan bersama bukan sekedar mencari bersama sama mengatasi perbe-daan latar belakang, kemudian membentuk sebuah kemitraan, langkah selanjutnya dalam mengembangkan model kemitraan tersebut adalah merumuskan kebutuhan bersama. Ife & Tesoriero 2008 151 mengatakan bahwa “Kebutuhan tidak bersifat obyektif dan juga tidak bebas nilai. Maksudnya kebutuhan harus dimengerti dari suatu perspektif yang mempertimbangkan nilai dan ideologi, dan yang memungkinkan gagasan-gagasan pem-bebasan ketimbang opresi.”Salah satu kebutuhan penting adalah peng-adaan pelatihan-pelatihan untuk membangun kemampuan-kemampuan pihak-pihak yang bermitra agar bisa beroperasi secara efektif.“Pelatihan merupakan peran edukatif yang paling spesik, karena hal tersebut melibatkan bagaimana mengajarkan pen-duduk untuk melakukan sesuatu” Ife & Tesoriero 2008590.Sebagai proses pendidikan, kegiatan pemberdayaan masyarakat banyak sekali dilakukan melalui pelaksanaan pelatihan-pelatihan. Mardikanto & Soebiato 2012204 menyebutkan bahwa setiap kegiatan pember-dayaan masayarakat harus mengacu pada kebutuhan yang sedang dirasakannya dan harus bisa memberikan manfaat untuk kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan pember-dayaan masyarakat harus diawali dengan pencarian pendidikan yang dibutuhkan serta analisis kebutuhan. 2. Tahapan Pembentukan Landasan Ber-sama dan Visi Misi dalam Pengem-bangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatLandasan bersama yang digunakan dalam kemitraan ini mengarah kepada kearifan lokal masyarakat di mana di dalamnya terdapat pula nilai-nilai yang dijunjung pula oleh PKM. Seperti yang diungkapkan Ife & Tesoreiero dalam bukunya Community Development, sebuah pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh sebuah perusahaan memerlukan gagasan perubahan bottom-up, termasuk di antaranya berkaitan dengan kearifan lokal seputar gagasan menghargai pengetahuan lokal, kebudayaan lokal, sumber daya lokal, keterampilan lokal, dan proses lokal. Setelah landasan terbentuk, secara otomatis akan terlihat visi dan misi dalam kemitraan. Visi misi yang digunakan adalah visi misi PKM, di mana visinya yaitu mensejahterakan masyarakat Ring 1’. Visi adalah sebuah landasan losos operasional sebuan entitas, tetapi dengan tidak memandang jenis entitasnya. Sebagai landasan losos, visi menjadi core value satu aktivitas sehingga menjiwai sebagai bentuk aktivitas yang menjadi entitas organisasi Hadi, 2009124. Bagaimana mereka membentuk landasan tersebut terjadi saat pembuatan Balance Business Plan BBP.Business Plan dalam web 2013 adalah “A written document describing the nature of the business, the sales and marketing strategy, and the nancial background, and containing a projected prot and loss statement. A business pkan is also a road map that provides directions so a business can plan its future and helps it avoid bumps in the road”Dalam pembuatan BBP tersebut, PKM mempelajari bagaimana cara merancang sebuah program dengan langkah-langkah yang tepat. Sehingga, selain mempunyai pengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan, mereka juga mempunyai cara untuk memenuhinya, dan hal ini didapatkan dari sharing-skill dengan Holcim untuk perencanaan dan eksekusi program CSR yang baik. 31Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia Tahapan Penyusunan Agenda Kegiatan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPenyusunan agenda kegiatan sama halnya dengan perencanaan agenda kegiatan. Menurut Mardikanto & Soebiato 2012235, perencanaan dimaknai sebagai “Suatu proses pengambilan keputusan yang berdasarkan fakta, mengenai kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.”Setelah menemukan informasi mengenai kebutuhan kedua pihak dan memadukannya dengan visi misi, maka PKM dibimbing Holcim merencanakan agenda kegiatan yang berupa program atau kegiatan CSR dengan perencanaan strategis, perencanaan community relationsyang diintegrasikan dengan konsep Business Plan. Mardikato & Soebiato 2012 259 dalam bukunya menjelaskan bahwa sebuah perumusan harus selalu memperhatikan “Strengths yaitu kekuatan/ potensi yang dimiliki, weakness yaitu kelemahan atau kendala yang akan dihadapi, opportunities yaitu peluang/ kesempatan yang tersedia, dan threats yaitu ancaman/ resiko yang harus di hadapi. Analisis tersebut dikenal dengan analisis SWOT.”Hal-hal diatas memang telah di susun oleh PKM, tetapi bedanya adalah PKM tidak memasukkan hal-hal yang bersifat pemasaran. Kemitraan berjalan untuk mengelola kegiatan CSR perusahaan, sehingga tahap perencanaan ini bisa juga mengadopsi konsep perencanaan CSR. Menurut Putri dalam Untung, 20081, “Corporate Social Responsibility adalah komitmen dari perusahaan atau organisasi bisnis untuk berkontribusi dalam pengem-bangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggungjawab sosial per-usahaan dan menitik beratkan pada keseim-bangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial dan lingkungan.”Melihat denisi seperti ini, Holcim Tuban merasa bertanggungjawab atas segala dampak yang ditimbulkan kegiatan produksi pabrik. Oleh karena itu, CSR ini dijalankan PKM dan Holcim untuk sebagai bentuk tanggungjawab dan komitmen perusahaan kepada lingkungan sekitar dengan memperhatikan aspek sosial dan Tahapan Penyampaian Rencana Aksi dan Evaluasi Kemitraan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatKemitraan menyampaikan rencana aksi, baik berupa pemberian layanan atau beberapa fungsi lain. Layanan tersebut dapat diketegorikan dengan pola charity, social activity, dan community development Hadi, 2009145.Berdasarkan metode PRA Chambers dalam Cooke and Kothari, 200175 menyata-kan bahwa PRA adalah pendekatan dengan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk meningkatkan dan menganalisis penge-tahuan mereka mengenai hidup agar mereka bisa membuat rencana dan tindakan. Bagaimana PKM ikut melaksanakan program CSR adalah bentuk dari metode tersebut. Setelah mereka membuat rencana atas kebutuhan mereka, kemudian mereka melakukan tindakan yang didasarkan pada rencana tersebut. Setelah menganalisis kebutuhan tersebut, PKM kemudian merencanakan program-program sebagai CSR Crowther David dalam Hadi, 200959, acoountability adalah upaya perusahaan terbuka dan bertanggungjawab atas aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibuthkan, ketika aktivitas perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. Konsep ini menjelaskan pengaruh kuan-titatif perusahaan terhadap pihak internal dan eksternal. Akuntabilitas bisa digunakan sebagai media perusahaan membangun image dan network terhadap stakeholder. Dalam pene-rapan akuntabilitas dan transparansi, terdapat beberapa aspek yang terlihat di kemitraan ini yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kedua pihak dalam kemitraan ini sangat memegang teguh nilai kejujuran dan saling percaya. Nilai ini akan dapat terwujudkan dengan adanya saling keterbukaan. Hal itu dilakukan dengan tetap menjalin koordinasi sebagai progress report, baik itu bersifat informal biasanya dengan jenis data kualitatif maupun dengan pertemuan formal yang kebanyakan datanya bersifat kuantitatif. PKM dan Holcim mengadakan progress report setiap minggu dan setiap bulan dengan berbekal grak pencapaian. Tahap ini juga membahas bagaimana evaluasi terhadap kemitraan yang di dalamnya terdapa proses menilai, mengevaluasi, dan menyempurnakan operasi kemitraan. 32 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaDalam mengevaluasi kemitraan, HIL menjadikan konsep kemitraan yang sukses menurut Gribben sebagai tolok ukur keber-hasilan kemitraan yang dijalankan, yaituBerdasarkan karakteristik di atas, HIL dan PKM telah memenuhi beberapa poin. Seperti agenda bisnis yang jelas, goals sejalan dengan objectives, saling menghargai dan keinginan saling belajar, keinginan untuk berubah, hubungan yang terbuka dan jujur, bekerja secara eksibel, melakukan komunikasi secara terus menerus, berakar pada komunitas, serta terhubung dengan organisasi Tahapan Penyusunan Strategi Peng-hentian Kemitraan Exit Stratgy dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatDenisi exit strategy dalam wirausaha dan manajemen strategi menurut web Ciputra Enterpreneurship adalah“Penarikan diri yang terencana dari sebuah perusahaan, atau cara tertentu untuk memin-dahkan kepemilikan seseorang/ pihak tertentu sebuah perusahaan atau operasional sebagian perusahaan.” Subiyanto mengutip pernyataan Rogers dan Macias bahwa ada tiga jenis strategi pengakhiran suatu program, yaitu phase down fase penurunan, phase over fase pengalihan, dan phase out fase penghentian.Holcim menganggap bahwa exit strategy dalam kemitraan ini merupakan penarikan diri yang terencana dari PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan kemudian memindahkan kekuasaan operasional kemitraan seutuhnya kepada AWAL KEMITRAAN MODEL KEMITRAAN SETELAH DIKEMBANGKAN 33Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia kedua model di atas, terdapat beberapa perbedaan yang cukup signikan antara. Pada model awal kemitraan Holcim mempunyai peran dalam seluruh proses pengelolaan kegiatan CSR, sedangkan PKM hanya melaksanakan beberapa tahapan saja, seperti proses pemahaman kondisi desa yaitu, PKM juga hanya terlibat sebatas kehadirannya pada hari pelaksanaan kegiatan CSR. Kemudian pada proses evaluasi, PKM mempunyai peran sebatas mengevaluasi masalah eksternal seperti yang berhubungan dengan adat, dan karakteristik masyarakat sekitar. Sedangkan pada model kemitraan yang baru, HIL dan PKM bekerja berdampingan untuk mengelola program dan kegiatan CSR. Holcim mempunyai peran sebagai supervisi untuk PKM sebagai pengelola CSR. PKM dilibatkan dalam setiap proses pengelolaan CSR. Pada proses pengelolaan kali ini juga lebih kompleks kegiatan-kegiatan yang ada di Tahapan Perumusan Kebutuhan Bersama telah dilakukan dengan, mengatasi latar belakang. Kebutuhan dari kedua pihak, yaitu perusahaan mendapat social license dari masyarakat, masyarakat mendapatkan manfaat dari tanggungjawab perusahaan. Setelah itu dibentuk PKM, dijadikan mitra, dan kemitraan dikembangkan. Kemudian terdapat aktivitas perumusan kebutuhan masyarakat. Pelatihan-pelatihan juga sudah dilakukan sebagai kebutuhan untuk mem-bangun kemampuan dari PKM. Hanya saja masih minim pelatihan mengenai pengelolaan CSR yang diadakan Tahap kedua adalah pembentukan landasan bersama dan visi misi juga telah dilakukan oleh Holcim dan PKM dengan menggali nilai-nilai yang menjadi landasan bersama sehingga diperoleh landasan bersama berupa kebersamaan untuk memberdayakan masyarakat sesuai kearifan lokal. Sedangkan visinya adalah Membantu menyejahterakan masyarakat desa ring 1. Kemudian mereka menyatukan informasi mengenai kebutuh-an bersama dengan visi misi untuk perencanaan agenda kegiatan. Hanya saja dalam pertemuan ini mereka belum mengkuantikasikan ukuran tindakan yang mereka usulkan untuk Tahap selanjutnya adalah penyusunan agenda bersama. PKM dibantu Holcim menghasilkan sebuah Road Map dan Balance Business Planning yang berisi tentang rencana program atau kegiatan untuk jangka waktu tiga dan satu tahun kedepan. Terdapat dua jenis agenda, yaitu yang termakhtub dalam proposal dan berdasarkan Surat Perintah Kerja SPK. Masing-masing personil Holcim dan PKM mempunyai tanggungjawab untuk setiap program yang direncanakan sebagai bentuk pengorganisasian. 4. Pada tahapan penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan terdapat beberapa langkah yang sudah dilaksanakan oleh kemitraan ini, seperti implementasi program-program CSR yang direncanakan berupa pemberian layanan, dan proses mempertahankan keter-libatan pihak-pihak yang bermitra. Pada tahap penyampaian rencana aksi atau eksekusi dilakukan oleh PKM dengan pengawasan Holcim. Saat melaksanakan program CSR, Holcim sebagai eksekutif kemitraan sudah mempunyai kebijakan yang dirumuskan yaitu keberlanjutan program. Evaluasi kemitraan dijalankan dalam dua bentuk, yaitu pertemuan formal dan Tahap exit strategy atau strategi penghentian dilakukan pada tiga tahap, yaitu dengan tahap perencanaan dan persiapan yang dilakukan dengan kegiatan persiapan untuk pelepasan PKM, perencanaan tindak lanjut dan persiapan generasi Untuk perusahaan, pada tahap perumusan kebutuhan terdapat kebutuhan pelatihan untuk PKM. Sebaiknya dilakukan lagi pelatihan pengelolaan CSR untuk Pada tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi, terdapat aktivitas yang belum dilakukan yaitu adalah mengkuantikasikan tindakan yang diusulkan untuk dijalankan. Oleh karena itu, perusahaan lebih baik memberikan pengarahan kepada PKM untuk membuat kuantikasi dari data mengenai kebutuhan Tahap penyusunan agenda untuk perusaha-an adalah mengadakan secara berkala pertemuan dengan PKM untuk membahas inisiasi program yang berasal dari PKM, missal tiap bulan. 34 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatna4. Tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi, perusahaan bisa menggunakan audit komunikasi sebagai cara untuk meng-evaluasi Tahap penyusunan exit strategy, sebaiknya segera ditentukan kapan dimatangkan konsep phase down, phase over, atau phase Untuk PKM, tahap perumusan kebutuhan bersama, pelatihan merupakan kebutuhan PKM sehingga sebaiknya mengikuti semua pelatihan-pelatihan mengenai pengelolaan Untuk PKM, tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi, PKM sebaiknya membuat table kuantikasi untuk tindakan yang akan diusulkan pada Untuk PKM, pada tahap penyusunan agenda kegiatan sebaiknya lebih memaksimalkan ide untuk inisiasi program lewat perencanaan strategis yang Untuk PKM, pada tahap penysunan exit strategy, sebaiknya ikut aktif menentukan strategi apa yang cocok untuk kemitraan ini, sehingga tidak bergantung pada PUSTAKABisnis UKM. 2013. Exit Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda. Bisnis Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Bill & Kothari, Uma. 2001. Participation The New Tyranny?. London Zed BooksIfe, Jim & Tesoriero, Frank. 2008. Community Development. Yogyakarta Pustaka PelajarIriantara, Yosal. 2010. Community Relations. Konsep dan Aplikasinya. Bandung Simbiosa Rekatama Totok & Soebiato, Poerwoko. 2012. Pemberdayaan Masyarakat. Bandung AlfabetaRogovsky, Nikolai. 2000. Corporate Community Involvement Programmes Partnerships for Jobs and Development. Subiyantoro, Agus. 6/12/2013. Phase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit Strategy?. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Program Peningkatan Kualitas Pemukiman. Diakses pada 18 Desember 2015, pukul Amin Widjadja. 2007. Corporate Social Responsibility CSR. Jakarta Harvarindo ... Sesungguhnya, evaluasi program tergantung pada programnya. Sebab, mengacu pada hasil riset "tak jarang bila dalam pelaksanaan program terdapat hambatan dan halangan yang mengharuskan untuk melakukan aktivitas di luar rencana, disesuaikan dengan kebutuhan dan berjalan secara spontan Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Mellia AgustiyaniHanny Hafiar Evi NoviantiABSTRAK Bank Indonesia merupakan lembaga independen yang mewajibkan untuk mensosialisasikan ciri keaslian uang rupiah atau sosialisasi CIKUR “Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase dari model of small group socialization di Bank Indonesia KPw Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan data kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa Asisten Manajer I Bank Indonesia KPw Jawa Barat yang berperan sebagai pengawas serta pelaksana sosialisasi CIKUR mulai dari fase pendahuluan, fase antisipasi, fase pertemuan, fase asimilasi, dan fase keluar. Pada fase pendahuluan, fase asimilasi, dan fase keluar, analisis demografi, identifikasi kelompok, evaluasi dan apresiasi yang dilakukan belum optimal. Dari hasil penelitian ini, saran yang diberikan adalah lembaga sebaiknya melakukan analisis demografi secara spesifik yaitu usia, ras dan gender, identifikasi kelompok evaluasi dan apresiasi agar tujuan utama sosialisasi dapat tercapai.... Education to increase environmental awareness is an effort that must be done by involving the community in its development. Community development can be done to gather bottom-up ideas of change, including those related to local wisdom around ideas which value local knowledge, local culture, local resources, local skills, and local processes [5]. Moving the community so they are willing to play an active role in environmental conservation is a social responsibility that must be carried out together. ...... Holcim Indonesia Tbk. Pembentukan tim untuk pelaksanaan kampanye Belkaga tidak lagi dilakukan seleksi khusus sebab seluruh divisi yang berkaitan dengan penyelenggaraan porgram sudah otomatis menjalankan tugas sesuai bagiannya masingmasing Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. Selanjutnya dilakukan pelatihan terhadap petugas, khususnya petugas Filariasis yang ada di Puskesmas dan juga petugas kader kesehatan, sebab mereka adalah orang yang bertanggung jawab langsung menangani pos pengobatan pada saat pelaksanaan POPMF. ...Seftia Rahmaning TyasHanny HafiarAnwar SaniPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses prakampanye, proses pengelolaan kampanye, dan hasil evaluasi kampanye oleh Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan konsep manajemen kampanye oleh Antar Venus yang dikembangkan berdasarkan Model Kampanye Ostergaard. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, teknik dokumen, studi kepustakaan, dan angket menggunakan teknik pengumpulan informan dengan purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif, sedangkan teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa proses kampanye Belkaga dibagi dalam tiga tahap yaitu prakampanye, pengelolaan kampanye, dan evaluasi kampanye. Hasil prakampanye menyatakan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang merupakan daerah endemis dan belum melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis POPMF. Hasil pengelolaan menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan RI tidak melakukan identifikasi segmentasi sasaran berdasarkan klasifikasi warga yang sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan yang disampaikan dibuat sama rata. Selain itu, penyebaran informasi yang kurang jelas mengakibatkan pesan yang diterima khalayak tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan komunikator. Kesimpulannya, masalah kampanye Belkaga timbul karena manajemen kampanye yang kurang efektif oleh Kementerian Kesehatan RI. Peneliti menyarankan agar Kementerian Kesehatan RI menyesuaikan pesan berdasarkan klasifikasi warga sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan tepat sasaran, mengoptimalkan media yang digunakan, memberikan pelatihan penyampaian informasi kepada kader kesehatan.... Intinya, pemilihan bahasa ini merupakan salah satu upaya pemberdayaan, adapun "proses pemberdayaan masyarakat membutuhkan upaya untuk mengenali potensi dan kemampuan, mencari alternatif peluang dan pemecahan masalah serta mampu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumberdaya secara efisien dan berkelanjutan sehingga tercapai kemandirian" Agustini, Budiono, Saepudin, & Silvana, 2015. Hal ini juga selaras dengan pernyataan Iriantara 2010173 bahwa "pengembangan masyarakat pada dasarnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat tersebut" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016 ...Gilang GumelarHanny Hafiar Priyo SubektiThis research try to investigate the using of language by deaf. The theory used in thisresearch is the theory of Phenomenology Schutz. This research used constructivismparadigm with Phenomenology as the kind of research. Data collection techniques thatused are in-depth interviews, participatory observation, and the study of librarianship,the collecting techniques of key informants by snowball sampling. While the dataanalysis techniques using three stages, the first is reduction, the second is rendering,and the third is the withdrawal of the conclusion. Validity of data uses triangulationtechniques sources and triangulation techniques. The results of this research showthat the meaning of Bisindo as Deaf Culture for the informants who are the memberof DPC Gerkatin Jawa Barat, is categorized as affirmative meaning. The meaning of theaffirmative that is owned by the informants is when the informants consider that Bisindoas Deaf Culture, is an interest and pride. The study also found motifs belonging to theinformants in lifting the existence of Bisindo as Deaf Culture, not only the cause-motifbut also the purpose-motif. The informant’s experience, include the early experience inhow they get interest to Bisindo, the experience of using Bisindo, and the experienceto raise the existence of Bisindo as Deaf Culture that finally those communicationexperiences affect the way informants in conducting follow-up. Penelitian ini mengkaji tentang bahasa yang digunakan kaum tuli. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi Schutz. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi kepustakaan, dengan teknik pengumpulan key informant dengan cara snowball sampling. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna Bisindo sebagai Budaya Tuli bagi para informan yang merupakan anggota Gerkatin DPC Jawa Barat dikategorikan sebagai makna afirmatif. Makna-makna afirmatif yang dimiliki para informan adalah ketika informan menganggap Bisindo sebagai Budaya Tuli adalah sebuah kepentingan dan kebanggaan. Penelitian ini juga menemukan motif-motif yang dimiliki informan dalam mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli, baik itu motif sebab atau motif tujuan. Adapun pengalaman yang dimiliki informan, meliputi pengalaman awal ketertarikan pada Bisindo, pengalaman menggunakan Bisindo, dan pengalaman mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli yang akhirnya pengalaman komunikasi tersebut mempengaruhi cara informan dalam melakukan tindak lanjut... Pranata sosial dapat memperlancar penggiat lingkungan untuk melakukan proses mengumpulkan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi penanggulangan bencana banjir yang dikemas dalam format pendidikan penangguangan bencana banjir, sehingga dapat membangun pemahaman, sikap dan partisipasi masyarakat di wilayah tersebut. Adapun partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama merupakan hal penting dalam menjalin hubungan kemasyarakatan Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Iriana BaktiHanny HafiarHeru Riyanto Budiana Lilis PuspitasariThe study is titled implementation of environmental communication based on the social institution in coping with the flood in the Citarum Watershed Upstream. Citarum river pollution and silting are currently in a state of particular caused by forest encroachment in the upstream, land use, household waste, animal husbandry, industry, offices, etc, so when the rainy season caused the occurrence of floods. In addition, these conditions have resulted in water quality being unfit to be utilized, both for drinking water, washing, bathing, irrigation for agriculture and so on. The actuator environment seeks to restore the Citarum Watershed upstream conditions by building public awareness so they may want to change their attitudes and behavior, one of them by not disposing of waste into the river. The selected communities are those that are incorporated in a social institution in the region. The purpose of the research is to find out about the types of institution, the reason for utilizing the institution, and the role of the environment actuator communication in a social institution. The methods used in this research is descriptive with qualitative data to describe the various realities of communication activities related to the environment by leveraging social institution in coping with the disaster of the flood in the area of Citarum Watershed Upstream. Research results showed in the region there are four types of institutions, namely the institution of religious, economic, agricultural and social. Institution related to religious activity is Majlis Ta'lim the place of informal Islamic teaching and education, institution related to the activity of the economy is an arisan regular social gathering, institution related to social activity is the PKK Family Welfare Guidance, and institution related to the agricultural activity is The Association of Farmers Group Gapoktan. The reason for the environment actuator utilizing social institution are as the entrance access to carry out flood mitigation program, already familiar, easy to invited to cooperate and to expand the network. The role of the environment actuator in the institution as a communicator and facilitator in conducting dissemination of information and training of waste utilization to the members of the institutions.... Kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama dengan berbagai pihak. Pada initinya mengacu pada hasil riset dinyatakan bahwa "ada beberapa hal yang bisa membuat kemitraan berjalan sukses adalah memperlakukan pihak yang bermitra sebagai kesempatan untuk mengizinkan orang-orang dengan latarbelakang yang berbeda untuk belajar satu sama lain" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Sherly AmaliaHanny HafiarHeru Riyanto BudianaThe workshop was organized by West Java’s Industry and Trade Service Disperindag in collaboration with Universitas Padjadjaran with purpose to produce new entrepreneurs. This research aims to discover the extent of the correlation between the workshop and the participants attitude toward entrepreneurship. Theory used in this research is ELM Theory by Richard E. Petty and John T. Cacioppo. This study uses quantitative method. Researcher used Random Sampling, in the population of the participants from the Batch 27 and 28, resulting 65 samples. Based on the recapitulation of the result of correlation and discussion, the result of this research showed that there was a significant correlation between the perception of workshop and the participants attitude toward entrepreneurship. The result indicates that the programs of this workshop significantly affected participant’s will to start becoming entrepreneurs.... Bagi pengkaji budaya Indonesia, khususnya Jawa, menunjuk dengan ibu jari adalah simbol penghormatan dan menunjuk dengan telunjuk dianggap tidak sopan Fox, dalam Kompasiana, 201469. Evaluasi kegiatan komunikasi dalam bentuk apapun, seharusnya melibatkan faktor budaya, hal ini sesuai dengan pernyataan "melakukan evalusasi terhadap CSR dilihat dari aspek budaya dan karakter masyarakat" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ... Muhammad Wildan YusraHanny HafiarDiah Fatma SjoraidaThis study uses qualitative methods with semiotics analysis from Charles Sanders Peirce. The purposes of this study are to determine the symbol contained in MBM Tempo, the meaning contained within the symbol, and how these symbols constructing Rizal Ramli’s Image as the howling. The result of this study showed MBM Tempo Jakarta cover “The Fighter or The Howling” 24-30 August 2015 Edition consist of three main symbols, Rizal Ramli’s on his hips, pointing and opened mouth, a hand hold puppet stick, and text symbol. Rizal Ramli’s caricature in the cover of MBM Tempo is an illustration of the text is written in the middle of Tempo’s cover, so that both are interlocked. These symbols have different meanings. The meaning of each symbol constructing the image of Rizal Ramli as the howling in the cover of MBM Tempo. The conclusion of this study showed that the symbols MBM Tempo Jakarta cover “The Fighter or The Howling” 24-30 August 2015 Edition consist of three main symbols, Rizal Ramli’s on his hips, pointing and opened mouth, a hand hold puppet stick, and text symbol included to typography. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol yang terdapat dalam MBM Tempo, makna yang terkandung dalam simbol-simbol, dan simbol pada MBM Tempo dapat mengkonstruksi citra Rizal Ramli sebagai Peraung. Hasil penelitian menunjukkan sampul MBM Tempo Jakarta “Rizal Ramli Petarung atau Peraung” Edisi 24-30 Agustus 2015 terdiri dari tiga simbol utama, simbol gesture Rizal Ramli sedang berkacak pinggang, menunjuk dan mulut terbuka, simbol tangan wayang yang memegang tuding, dan simbol teks. Karikatur Rizal Ramli yang terdapat dalam sampul MBM Tempo merupakan ilustrasi dari teks yang tertulis ditengah sampul Tempo, sehingga keduanya saling berkaitan. Simbol-simbol tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Makna yang terkandung dari setiap simbol mengkonstruksikan citra Rizal Ramli sebagai Peraung dalam sampul MBM Tempo. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat tiga simbol utama dalam sampul MBM Tempo Jakarta “Rizal Ramli Petarung atau Peraung” Edisi 24-30 Agustus 2015, yaitu simbol gesture Rizal Ramli sedang berkacak pinggang, menunjuk, dan mulut terbuka, simbol tangan wayang yang memegang tuding, dan simbol teks yang termasuk Indonesia is a company engaged in the field of agribusiness knew that employee relationship becomes important thing for the progress of the company. This study aims to determine the process of employee relationship management in PT Kemfarm Indonesia. The method used is descriptive with qualitative data. The research data was collected by observation, structured interview and literature study. The results show that HRD PT Kemfarm Indonesia acts as an internal PR managed relationships between companies, from processes, organizing, monitoring, evaluation and development program. In the process of planning, organizing, and program evaluation, the communications channel has not been optimal. From the results of this study, the suggestions provided are companies that do mapping the situation specifically on the process of planning, organizing and evaluation by using an effective communication channel on every program implementation so that the main goal of the program can be Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Participation The New Tyranny?Ukm BisnisBisnis UKM. 2013. Exit Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda. Bisnis Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Cooke, Bill & Kothari, Uma. 2001. Participation The New Tyranny?. London Zed BooksPhase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit StrategyAgus SubiyantoroSubiyantoro, Agus. 6/12/2013. Phase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit Strategy?. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Program Peningkatan Kualitas Social Responsibility CSRAmin TunggalWidjadjaTunggal, Amin Widjadja. 2007. Corporate Social Responsibility CSR. Jakarta HarvarindoPemberdayaan Masyarakat. Bandung Alfabeta RogovskyMardikantoPoerwoko SoebiatoMardikanto, Totok & Soebiato, Poerwoko. 2012. Pemberdayaan Masyarakat. Bandung Alfabeta Rogovsky, Nikolai. 2000. Corporate Community Involvement Programmes Partnerships for Jobs and Development. Suhu oven Adit adalah 80 celcius. Tentukan Suhu Satuan - Reamur- Farenheit- KelvinPelajaran Fisika x MatematikaKelas 7tolong bantu yah ges … ….​ Hasil dari 2m + -4n, jika m = -5 dan n = -6 adalah ..​ Rizki merupakan seorang lulusan sarjana akuntansi dengan konsentrasi perpajakan dan sekarang bekerja sebagai konsultan pajak di salah satu kantor kons … ultan pajak lokal dijakarta, ia bercita-cita ingin mendirikan sebuah kantor konsultan pajak setelah memiliki pengalaman yang cukup. Tujuh tahun kemudian cita-cita tersebut terealisasi, Pada Bulan April 2022 Rizki akhirnya membuka kantor konsultan pajak sendiri dengan beberapa temannya dengan nama Persekutuan Rizki, Fahmi dan Rekan atau dikenal brandingnya adalah “Revenue enhancement Solusi Republic of indonesia”. Rizki membuka kantor konsultan pajaknya di daerah Djakarta Selatan dengan menyewa 1 lantai di Gedung Menara Sudirman. Transaksi usaha berikut ini dilakukan oleh Tax Solusi Republic of indonesia sepanjang April 2022 Apr investasi usaha awal usahanya, Rizki menginvestasikan beberapa Asset sebagai berikut uang tunai/kas Perlengkapan Piutang Serta Peralatan sewa satu lantai di Gedung Menara Sudirman untuk tiga bulan kedepan, sesuai kesepakatan dengan kontrak sebesar premi untuk asuransi dalam bentuk kerugian dan kebakaran kas dari klien sebagai pembayaran dimuka untuk jasa yang diberikan dan dicatat sebagai pendapatan diterima di muka tambahan peralatan kantor secara kredit dari PT Aneka Sempurna sebesar Rp kas dari klien atas pelunasan piutang usaha tunai untuk iklan koran Rp PT Aneka Sempurna sebagian dari utang peralatan tanggal 4 April sebesar jasa secara kredit untuk periode one- 12 Apr sebesar Rp gaji 2 mingguan untuk pegawai administrasi paruh waktu kas dari klien atas laurels periode one-16 April tunai atas pembelian barang habis pakai pendapatan honor yang masih terutang periode thirteen-20 April kas dari klien atas honour periode 17 – 24 April kas dari klien atas pelunasan piutang usaha gaji two mingguan resepsionis paruh waktu Butuh jawaban wa 083800670247 1. 3/five + 5/seven + fifteen/35 + 1/5 = 2 three/eight + ane/2 + 10/12 + 5/six =3. four/9 + 2/6 + 4/2 + ii/iii =4. 5/7 + half-dozen/7 + 2/three + iii/7 =tolong dijawab y … aaa sama buat langkah – langkahnya​ pak heri memanen 500 buah jambu. jambu tersebut akan dimasukkan keberapa keranjang sama jika jambu dimasukkan ke 25 keranjang, berapa banyak … jambu pada masing masing keranjang?​ reniamalisi X akan mendapat keuntungan sebanyak nya Total modal dolar, Modal X sebanyak dolar 45% dr ttl modalModal Y sebanyak dolar 35% dr ttl modalModal Z sebanyak dolar 20% dr ttl modalKeuntungan dolarKeuntungan yg di peroleh X sebesar = 675Semoga puas dgn jawaban sy.. 1 votes Thanks 0

tiga orang membentuk kemitraan